Museum Etnobotani

BUAH BERSEJARAH: Salah satu koleksi Museum Etnobotani berupa buah nanas yang berumur ratusan tahun.

Melihat kondisi gedung yang tak terawat, rasanya tak sebanding dengan statusnya sebagai Museum Etnobotani pertama di tanah air. Minimnya perhatian pemerintah, membuat museum ini luput dari pengembangan.

MENELUSURI lantai dua gedung Museum Etnobotani, wartawan koran ini berkesempatan bertatap muka dengan kepala museum Mulyati Rahayu. Perempuan yang akrab disapa Ibu Nini ini menjelaskan, selain menjadi satusatunya di Indonesia, Museum Etno-botani juga menyimpan kekayaan ciri khas suku bangsa. Setidaknya dari 350 suku bangsa.

“Setiap suku bangsa memiliki cara berbeda dalam memanfaatkan kekayaan hayati,” kata dia.Misalnya, dalam pemanfaatan pohon sagu, ternyata ada salah satu suku bangsa yang menggunakan sagu bukan hanya untuk makanan pokok. Tapi bisa juga digunakan sebagai bahan sandang dan beberapa kerajinan.

Bahkan, untuk tumbuhan rempahrempah di setiap suku bangsa, pemanfaatannya juga akan berbeda. Ada yang digunakan untuk obat-obatan, juga untuk bahan makanan.

Namun kekayaan ini ternyata tak cukup dikenal masyarakat luas. Bahkan, Museum Etnobotani sebagai pusat penyimpanan koleksi pemanfaatan tanaman juga tak banyak dilirik warga. “Bisa dibilang yang datang ke museum ini sebagian besar adalah pelajar. Sedangkan yang rutin, jumlahnya masih bisaterhitung. Padahal, museum ini bisa jadi sarana pembelajaran bagi para pelajar untuk mengenal tumbuhan yang ada di dalam negeri,” jelas dia.

Nah, salah satu hal faktor yang menjadi penyebab masih kurangnya minat terhadap museum ini adalah minimnya perhatian pemerintah.

“Kalau berbicara dana operasional dari pemerintah, memang sangat minim. Tapi kami bersyukur masih bisa bertahan hingga jelang 30 tahun,” ujar perempuan ramah ini.

Ia sangat mengharapkan museum tersebut menjadi pusat penyimpanan koleksi keanekaragaman hayati yang ada di Indonesia.

Bahkan, Nini bersama beberapa orang stafnya menginginkan keberadaan museum tersebut tak hanya ada di lantai dasar dan satu, namun seluruh gedung menjadi bangunan Museum Etnobotani. “Masih menunggu proses. Mengenai kapan pelaksanaan pembangunan tersebut, kami belum tahu pasti,” tandas dia.(*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s